Kamis, 07 April 2016

In Your Hand

      Kau duduk di sana, sedangkan aku di sini menatapmu dalam diam, seraya berharap kau membalikkan punggungmu dan menyapaku duluan. Pengecut, kah? Kalau sering, mungkin iya.  Tapi kurasa, wajar saja jika sesekali ingin disapa lebih dulu oleh orang yang kita suka.  Namun, piranti lunak di tanganmu itu nampaknya lebih menyenangkan untuk diajak berinteraksi ketimbang aku. Lihat apa sih, kamu? Aku bertanya dalam hati.

      Rasa penasaranku mendorongku untuk mendatangi mejamu, dan melihat apa yang kau lihat sejak guru biologi itu pergi. Lalu, dengan dalih meminjam rautan, kuajak dirimu bicara sembari melihat apa yang ada di balik layar kaca itu.

     Ternyata kau sedang berkomunikasi dengan seseorang nun jauh di sana lewat suatu aplikasi instant messaging. Sayang sekali, nama penggunanya tak terbaca dari jarak segini. Tapi, melihat dirimu tersenyum sendiri kala menatap layar, aku jadi curiga. Rasa kecurigaanku bertambah ketika kau mengirimkan emoticon hug ke orang itu.

       Mungkinkah kau.... ?

      Tidak, tak mungkin. Rasanya sulit membayangkan kau yang kaku itu bisa disukai orang selain aku. 

     Dipikir-pikir, perempuan memang suka mengirimkan emoticon-emoticon seperti itu pada perempuan lainnya. Mengingat fakta itu membuatku lega sedikit.

       "Lama amat ngerautnya," ucapnya, dengan nada datar dan ekspresi bosan yang biasa. Hah, cepat sekali perubahan ekspresinya. Padahal baru tadi dia tersenyum bahagia seperti baru dapat nilai 100 di ujian matematika.

       "Iya, gak tajam-tajam nih pensilnya. Rautan lo abal, sih," jawabku asal. Sengaja, biar kamu kesal—dan biar kamu nggak menunjukkan raut wajah jelek itu lagi didepanku.

     "Hmm, yaudah gak usah minjem. Dasar gak tau terimakasih." Kau mencoba meraih rautan itu dariku, tapi sayang kau kurang gesit.

       "Canda, candaa. Yaelah, gitu aja baper, Han."

      "Gak, gak baper kok. Cuma agak kesel aja," tandasmu. Lalu kau kembali asyik dengan duniamu. Lama-lama aku geregetan.

       Segera saja kurampas hp itu dari tanganmu.

       "AH, JANGAN DILIHAT!" pekikmu, panik.

     Terlambat, aku sudah  terlanjur melihatnya. Aku menahan tawa melihat raut wajahmu yang hampir menangis. Duh, kamu ini manis sekali, sih.

    "Ngapain teriak-teriak sih, Han, berisik tau," gerutu Tari, teman sebangkumu—yang terbangun dari tidur nyenyaknya gara-gara teriakanmu barusan.

     "Biasa lah, Tar, temanmu ini kan emang agak-agak," kataku, yang langsung disambut pelototanmu.

      "Ck, kalian berdua pacaran aja gih sana, biar akur dikit," lanjutnya.

      Aku menyeringai ke arahmu yang nampak kikuk gara-gara ucapan sobatmu. 

     Sayangnya, percakapan kita tak berlangsung lama karena guru matematika telah tiba dan pelajaran harus dimulai. Diam-diam, kuketik pesan singkat padamu, yang berbunyi:

    "Merangkai kalimat-kalimat puitis dan mengirimkannya ke akunku yang sudah gak dipakai lagi, biar gak grogi waktu ngucapin 'happy mensive'  langsung ke aku? Diam-diam kamu romantis juga ya."

----------------------------------------------------


       Pipi gadis 17 tahun itu memerah kala membaca pesan singkat dari sang kekasih.  Buru-buru diketiknya balasan untuk orang yang telah mengisi sebagian relung hatinya itu.


      "Jangan kegeeran. Menjijikkan, tahu? Simpan hpmu dan perhatikan pelajaran, Bodoh."

       Tidak, gadis itu tidak benar-benar kesal pada sang pemuda. Sebaliknya, sang pemuda pun tahu makna dari pesan yang diterimanya.

     Begitulah, dua orang yang saling mencintai dengan cara yang berbeda, dan saling percaya, bahwa rasa sayang tak harus diungkapkan secara literal.

        "Heh, aku membencimu, Kaku."
.
.
.
.
.
—Jakarta, 8/04/16.

Minggu, 29 Maret 2015

A Surprise on the Shining Moonlight (2)

A Surprise on the Shining Moonlight
—Chapter 2—
One PoV ~ Starring: Andri & Aro
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Pintu terbuka, dan tubuhku yang tanpa pertahanan itu pun terjerembab.
“Kau ini lebay sekali sih, buka pintu saja pakai efek slow-motion!”
Suara melengking itu berdengung di telingaku, membuat kepalaku semakin sakit. Aku mengusap-usap jidatku yang terantuk ubin kamar kos cukup keras, sembari bangkit dan melihat siapa yang telah merusuh di kamar kosku. Ternyata dia bukan rampok atau pembunuh bayaran, tapi dia bisa lebih sangar dari itu. Dia adalah ...

Minggu, 15 Maret 2015

A Surprise on the Shining Moonlight

A Surprise on the Shining Moonlight
—Chapter 1—
One PoV ~ Starring: Andri
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
          ‘Jakarta Keras, Boss!’
Sepenggal tulisan pada deretan mural-mural di tembok jalanan yang kulewati membuat kepalaku semakin sakit.
Bagaimana tidak …

Jumat, 20 Februari 2015

Oh Man ...


I was 10th grader at that. It was Monday morning. As usual, all students must join the ceremony before learning activities started. When I looked down from the upstairs, I saw many people had assembled there. Many students had lined up according to their class. So, I went downstairs in a hurry. And the incident happened …

I fell down at the field, in front of the people. Not only students from my class, but the students from another class (from different major, and yes, from higher class) saw that incident. You can imagine how embarrassed I was.

I REALLY felt embarrassed. So, I wake immediately, and ran fast as a flash towards my class row. I didn’t care about the wound or the hurt; I just want to hide myself in the row!

That was bad day for me. My shirt sleeve was torn at the elbow. My elbow was bleeding a little. My knee was bruised. Plus, my classmate teased me all day about the incident—or I may call it, small accident. And I just can be patient…

Well, I don’t exactly know why I fell. I guess it because I stepped on the edge of my long skirt. But, one thing that I know: I should be more aware with my step!

Minggu, 11 Januari 2015

Antara Ekskul dan Si Anti-Sosial

Hari ini hari Senin, alias H-1 menuju demo ekskul. Anneke, sohibku yang merupakan anggota berbakat di ekskul drama, dipercayakan untuk memainkan peran penting. Tak jarang kulihat dia menangis sesenggukan di kelas, demi menghayati peran yang akan dimainkannya nanti.
“Nangis mulu, nanti air mata lo kering, lho. Nanti malah gak bisa nangis lho, pas pentas,” ledekku.

Introduction

Well, why do I named this blog 'Childish Dream'?
The main reason is... that was the first thing that crossed across my mind. Maybe, I'll change the name later ... bcos i don't have any interesting name for now :')
Okay, welcome to my blog :)
Just enjoy it~
And thanks for reading this absurd note from me *hughughug*
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(dan maaf kalau tenses gue ancur sangat, hwhwhw :'3 aku masih belajar kakakkk)