A Surprise on the Shining Moonlight
—Chapter 1—
One PoV ~ Starring: Andri
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
‘Jakarta Keras, Boss!’
Sepenggal tulisan pada deretan mural-mural di tembok jalanan
yang kulewati membuat kepalaku semakin sakit.
Bagaimana tidak …
Jalanan-jalanan yang hampir tak pernah luput dari kendaraan, klakson yang bersahut-sahutan di setiap perempatan jalan besar, permukiman ruwet di bantaran kali dan rel kereta, pengamen-pengamen dengan suara melengking, rombongan anak-anak alay dengan baju seragam dan tatanan rambut yang benar-benar tidak memenuhi kaidah sekolah, ‘cabe-cabe’-an—dan masih banyak lagi ‘ikon’ dari Jakarta selain Monas, Ancol, Kemayoran, dan sederetan gedung-gedung pencakar langit yang tentu cukup membuat fisik maupun mentalmu perlu diistirahatkan barang sejenak.
Jalanan-jalanan yang hampir tak pernah luput dari kendaraan, klakson yang bersahut-sahutan di setiap perempatan jalan besar, permukiman ruwet di bantaran kali dan rel kereta, pengamen-pengamen dengan suara melengking, rombongan anak-anak alay dengan baju seragam dan tatanan rambut yang benar-benar tidak memenuhi kaidah sekolah, ‘cabe-cabe’-an—dan masih banyak lagi ‘ikon’ dari Jakarta selain Monas, Ancol, Kemayoran, dan sederetan gedung-gedung pencakar langit yang tentu cukup membuat fisik maupun mentalmu perlu diistirahatkan barang sejenak.
Namaku Andri. Aku bukan seorang profesor atau motivator. Aku
hanya seorang mahasiswa tingkat dua jurusan pendidikan olahraga di salah satu
universitas negeri di Jakarta. Alasanku memilih jurusan dan universitas ini
tidak lain dan tidak bukan hanya karena ingin merasakan kehidupan di kota metropolitan.
Kehidupan yang gemerlap dan penuh kemewahan, dengan kemudahan dalam mengakses
segala informasi. Aku sadar kalau aku tak cukup pintar untuk masuk
jurusan-jurusan favorit di universitas ini, dan aku cukup suka berolahraga, jadi
aku ambil jurusan pendidikan olahraga. Syukurlah aku dapat diterima di PTN ini.
Sebab jika aku harus melanjutkan pendidikan ke PTS, orangtuaku takkan
mengijinkanku untuk kuliah di Jakarta. Sama-sama mahalnya, lebih baik ambil
yang di kampung halamanku saja, toh swasta-swasta juga.
Aku tidak
punya kerabat di Jakarta. Jadi, untuk tinggal di kota ini, aku harus mengekos. Orangtuaku
tentu memberikanku uang saku bulanan yang cukup besar karena aku tinggal jauh
dari mereka. Walau begitu, uang yang diberikan orangtuaku tersebut tidaklah
cukup untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhanku yang sedemikian banyaknya. Jangan tanya
biaya kosan yang harus kubayar per bulannya. Yang jelas, biaya kosanku sudah
termasuk murah untuk kos-kosan di Jakarta.
Karena
keterbatasan uang saku itulah, aku pun memutuskan untuk bekerja paruh waktu. Yeah, di kota besar ini, peluang kerja
memang benar-benar luas. Bahkan, kalau kau cukup kreatif, kau pun bisa membuka
bisnis kecil-kecilan di sini.
Aku pun
memperoleh pekerjaan sebagai kasir minimarket. Gajinya lumayanlah… setidaknya
mampu mencukupi kebutuhanku. Aku juga memiliki teman-teman yang asyik dan gokil
abis. Kebanyakan dari mereka memiliki background
yang sama sepertiku.
Ya, sampai sebulan
lalu aku masih merasa senang. Namun, sejak masa peremajaan, aku semakin enggak sreg dengan pekerjaanku ini. Teman-temanku
banyak yang masa kontraknya telah habis, jadi mereka harus digantikan dengan para
pelamar kerja yang baru. Rekan-rekanku yang sekarang ini enggak bisa kusebut ‘teman’.
Aku enggak suka dengan pribadi mereka yang malas-malasan dan sok rajin kalau
ada penilaian. Benar-benar cari muka.
Tadi, mereka
membuatku tertimpa kesialan. Tanpa sepengetahuanku, mereka menukar persediaan
uang kembalian di kasir dengan uang bernominal besar mereka. Aku sampai harus
menukar uang ke tukang gorengan di depan minimarket demi memperoleh uang
pecahan kecil. Banyak pelanggan yang memakiku karena terlalu lama. Kampret. Para
junior sialan itu enak gak kena makian gara-gara jam kerja mereka selesai lebih
awal.
Yahh, mungkin
ini resiko jadi orang yang terlalu woles
sama masalah junior atau senior. Mereka jadi gak tahu kapan harus santai, kapan
harus profesional. Sesekali aku harus bertindak tegas pada mereka agar mereka
bisa lebih disiplin.
Sudahlah…
memikirkan hal itu kembali hanya membuat rasa penat ini kian bertambah.
Untunglah, aku telah sampai di depan pintu kamar kosku. Segera saja kuputar
pintu kamar kosku yang—
—eh? Tidak
terkunci?
Rasa takut
mulai menjalari diriku. Bagaimana bisa?
Aku tidak merasa lupa menguncinya sebelum pergi ke luar…, batinku. Jangan-jangan, aku kemalingan?!
Tidak, tidak,
tidak. Mustahil seorang maling masuk lewat pintu. Biasanya mereka lebih memilih
masuk lewat jalan yang tidak umum, seperti lewat jendela. Tapi ini di lantai
dua!
Atau jangan-jangan,
rampok?! Atau pembunuh bayaran??! Suasana di kosan ini sedikit lebih sepi dari
biasanya…
Kulirik jam tanganku. Ah, kosan ini sepi gara-gara aku
pulang lebih larut dari biasanya. Lagipula, kalau rampok, pekerjaannya
seharusnya nggak serapi ini. Yeah,
aku nggak pernah dengar ada rampok yang membobol rumah tanpa merusak pintu.
Berarti kemungkinannya tinggal pembunuh bayaran. Tapi, untuk
apa mengincarku? Aku enggak punya hal-hal yang sanggup menarik perhatian dunia.
Aku hanya seorang mahasiswa normal dengan hidup yang cenderung membosankan.
Atau jangan-jangan… dia bukan pembunuh bayaran, tapi stalker?? Oh ya ampun, aku tahu kalau
aku ini cukup keren dan cukup eksis di kampus, tapi kalau orang ini ada rasa
padaku, kenapa enggak PDKT aja? Aku bukan orang yang jaim dan sulit didekati
kok…
Meneguk ludah, aku berusaha untuk tetap berpikir positif
seraya mengumpulkan segala keberanian yang kupunya. Waktu SMA, aku pernah
menjadi anggota Merpati Putih. Yah, walaupun aku hanya bertahan satu tahun, setidaknya
aku bisa membela diri kalau-kalau diserang oleh orang tak dikenal yang kemungkinan
besar masih berada di dalam. Kalau dia beneran stalker, akan aku ajak dia bicara baik-baik. Barangkali dia memang
pacar yang ditakdirkan untukku setelah penantianku yang panjang.
Tiba-tiba, ada yang memutar gagang pintu dari dalam. Aku tak
sempat melepaskan tanganku dari gagang pintu. Kehilangan keseimbangan, tubuhku
pun terdorong masuk ke dalam ruangan.
Dapat kudengar suara derap jantungku yang semakin cepat. Ya Tuhan, apa yang hendak kaulakukan padaku…?!?!?
.
.
.
.
.
~To be Continue~
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Thank you for reading until the end of this chapter. See you on the next
chapter~ :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar