A Surprise on the Shining Moonlight
—Chapter 2—
One PoV ~ Starring: Andri & Aro
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Pintu terbuka, dan tubuhku yang tanpa pertahanan itu pun
terjerembab.
“Kau ini lebay
sekali sih, buka pintu saja pakai efek slow-motion!”
Suara melengking itu berdengung di telingaku, membuat
kepalaku semakin sakit. Aku mengusap-usap jidatku yang terantuk ubin kamar kos
cukup keras, sembari bangkit dan melihat siapa yang telah merusuh di kamar
kosku. Ternyata dia bukan rampok atau pembunuh bayaran, tapi dia bisa lebih
sangar dari itu. Dia adalah ...
“Kak Ningrum! Ngapain malam-malam ke sini? Gak ijin sama
Andri dulu pula!”
Ya, dia adalah mak lampir kakakku. Areza Wati Ningrum,
orang tergalak di antara keluargaku. Usia 21 tahun, sedang berkutat dengan skripsi.
Kuliah jurusan biokimia di salah satu universitas di Bogor. Sama-sama merantau
demi melanjutkan pendidikan.
“Gimana mau ijin, kamu aja ditelepon mulu gak nyambung-nyambung.
Nomormu ganti, ya? Kok gak ngasih tahu?”
Aku menepuk jidat (langsung kusesali tindakanku itu
gara-gara membuat jidatku semakin sakit). Nomorku baru saja hangus kemarin,
gara-gara aku tak kunjung mengisi pulsa sampai batas masa aktifnya. Berhubung sebentar
lagi akhir bulan, aku berencana membeli nomor baru di awal bulan depan, kalau
uang gaji dan uang jajananku sudah kuterima.
“Kakak telepon ibu kosmu, katanya kamu masih di tempat
kerja. Aku tanya tempat kerjamu di mana, dia cuma jawab di minimarket, gak tahu
minimarket mana. Yang jelas masih di Jakarta. Yakali aku datangi seluruh
minimarket di Jakarta cuma buat nyari kamu! Kamu juga sih! Kok gak ngasih tau
keluarga kalo udah dapet kerjaan? Terus kuliahmu gimana?!”
Kok jadi Kak Ningrum yang marah, sih? Apapun alasannya, dia
telah masuk ke kamar orang lain tanpa ijin! Karena dia, jidatku jadi benjol.
Wajahku yang ganteng ini kan jadi berkurang kegantengannya gara-gara benjolan
sialan ini! Sudah begitu, masih juga marah-marahin si pemilik kamar! Dasar gak
tahu diri!
Si Mak Enok juga ngeselin! Udah berkali-kali kukasih tau
kalau aku kerja di Minimarket Gembira yang ada di daerah Kayu Manis, masih aja
jawab nggak tau. Dasar udah uzur!
Ingin rasanya kutumpahkan segala emosiku pada kakakku yang
kadang suka seenaknya ini. Namun, berhubung aku anak yang santun dan hormat
pada orang yang lebih tua, akhirnya kujelaskan baik-baik sampai Kak Ningrum
mengerti. Kujelaskan pula padanya alasan mengapa aku enggak memberitahunya dan
keluarga di kampung halaman bahwa aku telah bekerja. Sebenarnya aku nggak ingin
hal ini diketahui siapapun, tapi, ya sudahlah...
“Jadi kamu enggak ngasih tahu kami gara-gara nunggu dapat
promosi jabatan? Ya, syukur kalo dapat. Kalo kamu malah didepak gara-gara gak
becus kerja gimana?”
“Ya elah Kak, adiknya kerja bukannya di-support malah dicibir...”
“Siapa suruh sok-sokan buat surprise? Mengejutkan, tapi gak bikin senang samasekali. Bikin
jantungan sih iya,” celoteh Kak Ningrum. “Tapi gak ganggu kuliahmu kan? Benar?”
“Iya, Kak, benar, kok. Andri kan jadwal kuliahnya
Senin-Rabu-Jumat, sedangkan kerja part-time-nya
Selasa-Kamis, itu pun gak seharian shift-nya.
Bisa lah, bagi-bagi waktu buat kerjain tugas sama istirahat.”
“Yaudah, selama itu enggak ganggu kuliah kamu, yaa, enggak
masalah. Bokap-nyokap juga pasti seneng. Semoga aja kuliah dan kariermu
lancar.”
“Aamieen, nah, gitu dong Kak, didoain...”
“Kalau kamu ngasih tahu dari awal, didoainnya juga lebih
awal,” sambung Kak Ningrum lagi. Dia lantas berjalan menuju satu dari dua kursi
di kamar kosku, lalu duduk di sana. Aku hendak mengikutinya, namun ...
“WAAA!! Ini anak siapa…?!?!”
Kuacungkan jari telunjukku ke seorang bocah laki-laki yang
duduk di kursi satu lagi. Siapa dia? Sejak kapan dia berada di sana?! Aku
benar-benar enggak menyadari keberadaannya!
“Aku tahu kau udah lama nggak bertemu dengannya, tapi enggak
usah sehisteris itu juga, kali. It’s
‘lebay’, you know?” jawab kakakku, santai.
Hei, apakah aku memang terlalu lebay? Bukankah wajar jika aku khawatir saat ada orang asing masuk
ke kamarku, bersama dengan kakakku? Tampangnya sih emang polos, khas bocah
banget. Tapi kalau diperhatikan, postur badannya menunjukkan kalau dia bukan
anak usia 12 tahun ke bawah. Dia sudah balig! Dia pasti sudah mengerti
hitam-putih dalam hidup ini. Oh, lihat, dia tersenyum! Mencurigakan! Bagaimana
jika dia berniat jahat padaku dan kakakku?? Bagaimana jika ternyata, dia
menyandera kakakku di sini dan meminta tebusan padaku??! DA AKU MAH APA
ATUHHH?!! Boro-boro Ninja, Beat aja aku gak mampu beli! Lihat saja kendaraan
sehari-hariku yang cuma Astrea Grand butut warisan ayahku. Memangnya, apa yang
bisa kauharapkan dari seorang perjaka (red.: jones) yang berusaha survive di dunia yang tak kenal ampun
ini???
Untunglah, delusi tak karuanku itu langsung lenyap begitu
mendengar penjelasan kakakku.
“Ini Aro, anaknya Pakde Harun. Dulu, saat kamu masih SD,
kamu sering main dengannya. Tapi, semenjak Pakde Harun sekeluarga pindah ke
Maluku karena tugas dinas, kalian gak pernah ketemu dan kontak-kontakan lagi.
Sekarang tugas Pakde di Maluku udah selesai, beliau dipindah tugaskan lagi ke
Bogor. Tapi Aro gak mau sekolah di Bogor, mau sekolah di Jakarta aja, pengen
tahu gimana kehidupan anak-anak Jakarta, sama kayak kamu. Nah, kebetulan kamu
juga ngekos di Jakarta. Daripada dia kecapekan bolak-balik Bogor-Jakarta,
mending sekalian aja tinggal di Jakarta bareng kamu.”
Aku mencoba mencerna ucapan kakakku. Jadi, dia—si Aro—adalah
sepupu yang PERNAH dekat denganku, namun karena urusan keluarga, kami berpisah
untuk waktu yang cukup lama. Sekarang, dia kembali secara tiba-tiba, dan
langsung mengajak tinggal bareng denganku tanpa ngasih kabar dulu ke aku
sebelumnya? Hell no! Who does he think he
is?! Seenaknya saja! Keadaan dulu dan sekarang itu berbeda, Boss!
“Tapi, kenapa begitu tiba-tiba? Aku bahkan belum bertemu
dengan Pakde Harun dan Bude Intan!”
“Mereka sudah setuju, dan lagi mereka sibuk. Aku sendiri kok
yang ngajak dia buat tinggal bareng kamu.”
Senyum masam tersungging di bibirku. Kakakku memang
benar-benar suka seenaknya...
“Oh... haha. Ya, yaudah, kalau mau tinggal di sini. Tapi
kamar kosku sempit lho, gak pa-pa? Aro gak sumpek?” tanyaku canggung, pada Aro
yang sedari tadi hanya memperhatikan dialog antara aku dan Kak Ningrum.
“Nggak kok, gak pa-pa. Kamar di Wonogiri dulu kan, juga
segini ukurannya. Mas Andri lupa, ya? Kita kan dulu suka tidur bareng. Enggak
sumpek kok, malah nyaman banget. Apalagi kalau udah dipeluk Mas Andri,”
jawabnya (kelewat) kalem.
Kata-katanya entah kenapa membuat bulu romaku merinding.
Tidak, tidak, tidak, Andri, please.
Jangan mikir yang menjurus ke sana-sana.
Kulihat Kak Ningrum gemetaran, berusaha sekuat mungkin untuk
menahan tawa. Ah, sial ...
Kucoba mengarahkan pembicaraan ke jalur yang benar.
“Mm, yaudah. Tapi aku cuma mahasiswa dengan uang pas-pasan,
jadi ... aku gak bisa menjamin kalau aku bisa membantumu memenuhi segala
kebutuhanmu.”
Iyalah, mencukupi kebutuhan sendiri aja masih susah, gimana
mencukupi kebutuhan orang? Daripada sok gengsi nerima tumpangan hidup orang
lalu menyesal karena gak bisa manajemen uang, lebih baik aku terus terang saja
di awal.
Tak kusangka, Aro membalas pernyataanku dengan jawaban yang
‘luar biasa’.
“Soal itu, enggak masalah. Aro bakal dikirimin uang jajan
tiap dua minggu sekali. Ditambah lagi, Aro punya pekerjaan sambilan. Aro udah punya
penghasilan sendiri, jadi, Mas Andri gak usah pusing mikirin
kebutuhan-kebutuhan Aro selain kebutuhan tempat tinggal.”
Aku cengo’ dibuatnya. Ya ampun... sepertinya
banyak sekali hal-hal yang membuatku terkejut di malam berhiaskan cahaya bulan
dan bintang ini. Dia, remaja bertampang bocah ini, punya pekerjaan sambilan?
Sejak kapan?
“Memangnya,
kamu kelas berapa Aro, kok sudah punya kerja sambilan? Kamu sudah kerja berapa
lama?”
Yang ditanya
tertawa kecil, sebelum menjawab,
“Kelas 1 SMA,
aku sudah bekerja sejak enam bulan lalu.”
.
.
.
.
.
~To be Continue~
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Thank you for reading until the end of this chapter. See you on the
next chapter~ :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar