Minggu, 11 Januari 2015

Antara Ekskul dan Si Anti-Sosial

Hari ini hari Senin, alias H-1 menuju demo ekskul. Anneke, sohibku yang merupakan anggota berbakat di ekskul drama, dipercayakan untuk memainkan peran penting. Tak jarang kulihat dia menangis sesenggukan di kelas, demi menghayati peran yang akan dimainkannya nanti.
“Nangis mulu, nanti air mata lo kering, lho. Nanti malah gak bisa nangis lho, pas pentas,” ledekku.

“Gak mungkin, laah. Lo kira sungai apa, bisa kering,” katanya sambil terkekeh. “Gue tiap hari ngumpul nih, pulang sekolah,” Anneke mulai curhat. “Tiap hari latihan, ekspresinya juga harus benar-benar menghayati. Kalau nggak, siap-siap aja dibogem sama pelatih. Makanya, jangan heran kalau gue suka tiba-tiba nangis di kelas.”
“Udah tahu berat kayak gitu, kenapa gak keluar aja? Udah capek-capek latihan tapi tetep aja dikritik. Nyiksa diri.”
“Gak bisa gitu, Put. Ini bukan soal capek, tapi soal tujuan. Dengan gue masuk ke suatu ekskul, berarti gue udah jadi bagian dari kelompok yang punya tujuan bersama. Gak hanya gue, anggota yang lain pun harus bisa mengesampingkan ego pribadi demi suksesnya tujuan itu. Makanya, ikut ekskul!”
“Gak deh, makasih. Biar kata lo demi tujuan, tetap aja, menurut gue, ekskul itu merepotkan,” kataku. “Yaudah, gue cabut dulu deh, biar lo bisa konsentrasi. Inget, jangan buat penonton kecewa saat lo tampil nanti,” pesanku, sebelum beranjak dari bangku sebelah Anneke.
            “SIP! Gak cuma lo doang, gue juga gak ingin hal itu terjadi, kali.”
            Aku tertawa kecil. Inilah yang aku suka dari anak-anak ekskul. Tekad mereka benar-benar kuat, saking kuatnya sampai bisa membuat mereka melupakan arti dari kata ‘lelah’. Semua rela mereka tempuh demi tercapainya tujuan mereka.
            Kalau aku sih, boro-boro. Daripada harus datang tepat waktu, latihan keras, lalu ujung-ujungnya dibentak-bentak pelatih, lebih baik tidur di rumah.
           
* * *
            Tidak terasa, sekarang adalah hari H demo ekskul. Sejak pagi hari, Anneke dan anak-anak ekskul lainnya sibuk berlatih dan mempersiapkan segala properti yang diperlukan untuk pementasan yang sebentar lagi dilaksanakan. Termasuk Lathifah yang merupakan teman sebangkuku. Dia tengah berdiskusi dengan Nining dan Tiwi yang duduk di belakang kami, serta dengan teman-teman se-ekskulnya dari kelas lain.
           Aku, Puput, manusia yang sudah lama menghilangkan kata ekskul dari kamus hidupnya, kini luntang-lantung mencari teman yang kira-kira senasib-sepenanggungan dan bisa kuajak ngobrol. Untung saja, manusia ‘anti-sosial’ di kelas bukan cuma aku.
           “Hai, gue duduk di sini dulu, ya? Kursi gue lagi ditempatin anak-anak KIR, soalnya. Gak pa-pa, kan?” sapaku dengan gaya sok asik pada Anni.
           Yang disapa melirik sekilas, kemudian mengangguk. Manusia yang satu ini memang kelewat pelit mengeluarkan kata-kata. Baru 15 menit duduk di sampingnya, aku sudah merasa bosan. Dia lebih senang bermain dengan handphone-nya ketimbang berbicara denganku. Yah, daripada bermonolog, aku lantas melakukan kegiatan yang sama dengan Anni.
           Satu jam berlalu tanpa kehadiran guru di kelas kami. Akhirnya, tiba juga waktu pelaksaan demo ekskul. Aku dan Anni beranjak dari kelas kami di lantai 4 menuju lantai bawah, karena murid-murid dilarang berada di kelas masing-masing saat demo ekskul, kecuali murid-murid kelas 12. Demo ekskul sendiri dilaksanakan di lantai satu, tepatnya di lapangan.
           Aku, Anni, dan beberapa anak kelas 11 duduk di pinggir lapangan, bersebelahan dengan anak-anak kelas 10 yang merupakan penonton utama. Bersama-sama kami menikmati penampilan pertama dari anak-anak paskibra.
           Tiba-tiba, kurasakan seseorang mengguncang pundak kiriku sambil menyebut namaku berulang kali. Merasa terganggu, aku pun menoleh. Kulihat Anneke menatapku dengan gelisah.
           “Lo kenapa?”
           “Gawat, Put, gawat,” ucapnya, lirih. “Lo bisa ikut gue ke koridor bentar, gak?”
           Aku melirik Anni, yang nampak sedikit penasaran dengan kedatangan Anneke. Seolah mengerti dengan lirikan penuh arti dariku, dia pun mengangguk.
           “Oke,” jawabku.
           Anneke lantas menyeretku ke koridor, tepatnya koridor dekat tangga yang agak sepi. Setelah melirik ke kanan dan ke kiri, dia berkata,
           “Salah satu pemain di drama kami gak bisa main buat demo nanti.”
           “Lah, kenapa?”
           “Dia kecelakaan saat menuju ke sini pagi tadi. Lo tau kan, semalem ujan deres banget? Karena jalanan licin, dan karena dia agak buru-buru, jadi ... yah, dia terpeleset saat berlari mengejar bis, dan sialnya, ada motor yang nyerempet dia dari belakang ...”
           “Aduh, kasihan banget ...” gumamku. “Terus gimana, dong? Udah ada pemeran penggantinya?”
           “Belum ... makanya gue nyariin lo.” Anneke menatapku penuh harap. “Lo mau gak gantiin perannya dia? Gue rasa, lo bisa nguasain peran ini dalam waktu singkat.”
           “Hah, GUE?!!”
           Aku terkejut bukan main. Yang benar saja, aku bahkan tak benar-benar tahu jalan ceritanya seperti apa. Aku hanya tahu sedikit, itu pun karena Anneke menceritakannya padaku di kelas. Lebih parah lagi, aku tidak bisa berakting!
           “Gue kan gak tahu persis jalan ceritanya, Ne ...”
           “Lo gak perlu tahu persis kayak gimana jalan ceritanya. Cukup tahu scene-scene yang berhubungan sama peran lo aja. Gampang lah, itu. Nanti juga dikasih tahu sama pelatih. Yang penting, lo mau kan gantiin peran ini?”
           “Tapi, Ne, gue gak bisa akting!”
           “Masih ada 9 ekskul lagi yang tampil sebelum drama. Kita punya banyak waktu buat ngelatih lo.”
           “Lo lupa sindrom demam panggung gue separah apa kalo udah kumat?”
           “Ya elah. Ngapain lo gugup? Takut di-cengceng-in? Emang mereka kenal sama lo? Yaa, sebagian sih, ada yang kenal, tapi kan cuma sebagian kecil. Kebanyakan dari mereka kan gak tahu lo siapa, dan dari kelas berapa. Mana bisa cengceng-in lo?”
           “Tapi, Ne …”
           “Please, Put. Gue yakin, sebenarnya lo tuh bisa, Cuma lo gak mau repot aja. Makanya, gue mohon dengan sangat, tolong repotin diri lo … kali ini, aja.”
           Aku terpekur mendengar pernyataan Anneke. Aku, bisa? Bisa berakting di depan kerumunan orang, maksudnya? Hah, sepertinya dia lupa dengan predikat ‘anti-sosial’ yang kumiliki. Namun, melihat sorot matanya yang amat bersungguh-sungguh itu … hatiku pun tersentuh.
           “Ya udah, gue mau.”
           Matanya langsung berbinar begitu kuucapkan kalimat singkat itu. Kemudian, aku pun ditariknya menuju kumpulan anak-anak drama. Setelah perkenalan singkat, aku langsung diberitahu peran apa yang akan kumainkan beserta dialognya.
           Aku berperan sebagai penyihir gadungan yang rela menyengsarakan orang lain demi uang. Karakterku, sudah pasti sok mistis, sadis, dan mata duitan.
           Aku muncul tiga kali. Scene pertama adalah scene ketika seorang putri raja meminta bantuan penyihir untuk menyingkirkan adiknya, agar dia bisa menjadi satu-satunya pewaris tahta kerajaan. Sang Penyihir lalu memberikannya ramuan untuk meracuni adiknya. Singkat cerita, ramuan yang dicampurkan ke kue itu justru dimakan oleh teman bermain sang adik.  Scene kedua adalah scene ketika Sang Putri meminta bantuan lagi padaku. Kali ini, aku memberikannya ramuan keberuntungan yang bisa membuat apapun yang dikerjakannya terlihat baik di mata orang lain. Namun, ternyata ramuan yang kuberikan itu justru ramuan penyebab diare. Scene ketiga adalah scene ketika aku ditangkap oleh pengawal kerajaan karena membuat Sang Putri sakit. Aku dipaksa membuat ramuan penyembuh, jika tidak bisa maka aku akan dipenjara. Aku pun memberikan ramuan lagi, namun ramuan yang kuberikan justru ramuan pembunuh. Akhirnya, aku pun dipenjara dengan tuduhan membunuh putri.
           Meski peranku bukan peran utama, tetap saja, beban yang kupikul amat berat. Aku bermain atas nama ekskul drama. Kalau penampilanku buruk, yang dinilai buruk bukan hanya aku, tapi juga ekskul drama.
           Duh, merepotkan sekali, sih …
* * *
           Rasa gugup memang menghampiriku di awal-awal kemunculanku. Bagaimana tidak, ditonton lebih dari 1000 pasang mata tentu merupakan tantangan yang sulit untuk manusia ‘anti-sosial’ yang alergi keramaian sepertiku. Namun, aku teringat dengan pesan Anneke. Buat apa aku gugup? Orang-orang itu tidak mengenalku, dan aku hanya ‘mempermalukan’ diriku kali ini saja. Setelah ini, mereka pasti melupakanku.
           Lama kelamaan, aku menikmati peranku. Sebab, lawan mainku—baik itu Sang Putri maupun Pengawal Kerajaan—berperan sangat baik. Emosi kami sama-sama bisa tersampaikan. Ditambah lagi, antusiasme penonton yang ternyata cukup tinggi. Kelompok yang men-cengceng-in pemain memang ada, tapi itu tidak terlalu mengganggu pementasan. Walau tidak ada pencahayaan dan efek suara, semua itu sudah cukup membangun rasa percaya diriku.
           Pementasan pun berakhir dengan sukses. Tepuk tangan penonton meramaikan suasana ketika para pemain membungkukkan badan sebagai ucapan terimakasih.
           “Gue gak nyangka Puput anak drama!”
           “Keren! Puput keren! Cocok banget jadi penyihir!”
           Lathifah, Nining, Tiwi, Anni, dan orang-orang yang tahu aku, semuanya menatapku tak percaya. Namun, ada sorot kekaguman dan kesenangan di antara ketidakpercayaan itu.
           Saat itu lah, kurasakan sebuah euforia yang tidak biasa. Aneh, di satu sisi aku senang karena pementasan ini telah berakhir, tapi … di sisi yang lain, aku merasa belum puas. Aku ingin merasakan yang lebih dari ini. Aku INGIN bermain lagi.
           Kutolehkan kepalaku ke arah Anneke, yang tadi berperan sebagai sang adik. Setelah ini, kurasa ada hal yang perlu kubicarakan dengannya.
* * *
           “Ekspresi lo kurang, Put! Sedih! Sedih, Put! Kalau cuma kayak gitu, lo gak bisa ngasih tahu orang lain kalau lo lagi sedih! Keluarin lagi ekspresinya!!!”
           Entah sudah yang keberapa kalinya Kak Darto, pelatih ekskul drama di sekolahku, mengomeliku karena ketidakbecusanku dalam berekspresi. Uh, bete juga, sih, kena omel terus. Yah, mau bagaimana lagi. Namanya juga anggota baru. Harus dikerasin dulu biar bisa berekspresi dengan benar.
           Aku, Puput, manusia yang awalnya tidak mau repot-repot mendengarkan omelan orang, kini mau mengikuti ekskul drama dan menghadapi pantangan tersebut demi merasakan euforia setelah bermain peran. Sulit dipercaya, tapi itulah kenyataannya.
           Aku memang merindukan hidupku yang tenang ditemani bantal dan guling, tapi hidup yang penuh tuntutan seperti ini, rasanya tidak buruk juga.
           Nah, apa kedepannya aku masih bisa bertahan? Biar waktu yang menjawab. Sekarang, lebih baik kufokuskan konsentrasiku agar sepatu itu nggak melayang ke arahku.



- SELESAI –

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Author's Note a.k.a Curcol Penulis (gak dibaca juga gak pa-pa :') langsung komen aja di bawah /eh) :
Sebenarnya, ini cerpen yang gue karang buat tugas Bahasa Indonesia gue ._.
Sedikit terinspirasi dari--err, pengalaman pribadi (karakter Puputnya itu loh, sebelas duabelas ama gue). Yap, pengalaman pribadi yang diberi bumbu macam-macam agar lebih menarik~
Anyway, thank you for reading. I'd like to see your opinion about it on the comments below :)

Sign,

Annie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar